Posted by: Hernowo | March 16, 2008

Kisah Sebuah Seruling Bambu

Masuk ke rumah makan khas Jawa Barat. Ada suatu melody yang sangat khas yang begitu menyentuh jiwa. Ya ! Suara seruling bambu. Irama dan melodinya begitu indah membuat suasana hati pendengarnya begitu hanyut dalam suasana. Bagi yang sedang jatuh cinta, nada-nada tersebut akan terdengar begitu romantis. Bagi yang sedang bergembira, untaian iramanya terasa begitu riang. Bagi yang sedang bersedih, jeritan nadanya terasa begitu memilukan.

Apa yang membuat musik dangdut begitu berbeda ? Kendang… pasti! Tapi apa bedanya kendang dangdut dengan drum band atau karawitan ? Irama… tentunya! Tapi bukankah setiap jenis musik memang harus punya irama yang khas ? Satu hal yang tidak bisa dilupakan dari musik dangdut adalah alunan seruling bambu yang begitu khas.

Tidak dapat disangkal bahwa seruling bambu sudah memberikan sentuhan yang unik pada musik di Indonesia. Dia sudah menghibur jutaan pendengar. Sudah membantu ribuan musisi untuk menulis lagu. Sudah mengiringi ribuan pasang penganten ke pelaminan. Serta membuat jutaan orang bergoyang.

Seandainya kita yang menjadi seruling itu, mungkin kita berfikir bahwa kita akan sangat bahagia. Kita akan senantiasa menikmati suasana yang berhasil kita ciptakan. Tapi, seandainya kita bertanya kepada sang seruling, benarkan dia bahagia seperti yang dibayangkan banyak orang? Bahagiakan dia dengan semua itu? gemerlap di panggung, pesta pernikahan, ramainya rumah makan, dsb? 

Ketika dia sedang manggung, mungkin dia bahagia. Tapi bagaimana ketika dia sedang sendiri. Saat dimana dia berada dalam kotak penyimpanan yang sempit. Saat tiada lagi nada yang dimainkan? Saat dia ingin berbicara dengan sesama bambu hanya dengan suara deritan dan gesekan dan ternyata tak seorangpun yg mau mengerti. Mereka hanya mau sang seruling melantunkan alunan melodi yang mendayu dan menggugah hati. Bukan suara derit sebatang bambu yang terlalu biasa.

Dapat kita bayangkan bahwa dalam lubuk hati yang paling dalam, sang seruling memendam kerinduan untuk kembali pada asalnya. Dia ingin bergabung kembali dengan hijaunya rumpun bambu. Dia ingin kembali menikmati kemurnian alam desa. Sejuknya siraman embun pagi. Segarnya sapaan sang angin di sore hari. Tulusnya persaudaraan dalam rumpun. Riangnya canda tawa sesama bambu dalam pergesekan bersama sang angin.

Bagi kita yang menuntut lebih dari sang seruling, mungkin melihatnya sebagai suatu yang sangat biasa. Terlalu sederhana. Kurang modern. Agak bodoh.

Tapi itulah yang dirasakan sang seruling. Kerinduan dan keinginannya yang paling utama adalah untuk berkumpul kembali dengan rumpun tempat dia dulu dicabut dan ditebas oleh tuntutan gemerlapnya panggung pertunjukan.

Sherwood Apartemen, Saigon, 16 Maret 2008, 8.12 PM – Saat Adzan Isya Berkumandang

About these ads

Responses

  1. memang benar bicara tuan itu…tp ada eloknya kita menggunakan bambu untuk membuat seruling daripada kita menggunakan bambu untuk membuat jambatan,pondok,dan bahan perhiasan..setidak2nya ia menjadi seruling supaya alam dapat merasai kewujudannya dengan alunan2 yang merdu mengusik hati…saya juga permain seruling bambu dan saya cintakan seruling saya seperti kekasih saya sendiri…tidak ada sesiapa yang memahami saya selain seruling saya..

  2. asslmcom . . . saya mau bertannya ??

    bagaimna cara membuat seruling bambu?? ,ap saja bahan dan alatnya yang di gunakan untuk membuat seruling bambu itu ??

    terimakasih . . . wasslmc0m . ..

    • Ass. wr. wb.
      Maaf mas. saya tidak tahu gimana membuat suling
      wassalam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: