Posted by: Hernowo | April 24, 2008

Dosa Awal Mahluk Tuhan

Pada bulan Desember 2005, di sela-sela menunaikan ibadah haji, saya menemukan sebuah anjuran do’a dari sebuah buku yang cukup menarik. Inti dari do’a tersebut adalah permohonan kepada Allah agar kita dijauhkan dari sifat sombong, rakus, dan iri dengki. Cukup lama saya mencoba untuk mencerna mengapa sombong, rakus, dan iri dengki merupakan 3 sifat yang harus dibuang jauh dari diri kita. Dari berbagai referensi buku dan tafsir dari Al Qur’an, akhirnya saya memahami betapa berbahayanya ketiga sifat tersebut.

Kesombongan merupakan sifat buruk yang menyebabkan kemungkaran pertama kali makhluk dari Tuhannya. Dari berbagai literatur kita bisa baca bahwa sifat sombonglah yang menyebabkan iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Kisah ini dapat dilihat di Al Qur’an surat Al A’raaf (Surat ke 7) Ayat 11 a/d 13. Hal senada dapt juga dilihat dalam surat Al Hijr ayat 28-38.

Rakus adalah sifat yang menyebabkan Adam dan Hawa, nenek moyang manusia, harus keluar dari Sorga. Kalau dipikir secara logis, kurang apa lagi Allah memberikan kemuliaan dan kasih sayangnya kepada Adam ? Dia bukanlah mahluk yang diciptakan paling awal. Paling tidak kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Malaikat dan Iblis diciptakan lebih dulu daripada Adam. Unsur penciptaannya juga bukan berasal dari “material terbaik”. Akan tetapi, dengan kondisi seperti itu, Adam ditempatkan dalam posisi yang sangat terhormat di antara semua makhluk Allah. Dalam posisi seperti itupun, Adam masih merasa “belum cukup” sehingga masih perlu melanggar larangan Allah untuk makan buah terlarang. Itulah sifat rakus, yang menyebabkan Adam harus keluar dari sorga.

Iri dengki adalah sifat yang menyebabkan dosa besar pertama umat manusia di muka bumi. Sifat inilah yang membuat qabil membunuh habil – yang menyebabkan berguncangnya alam semesta karena perbuatannya tersebut.

Bisa diambil kesimpulan bahwa ketiga sifat buruk inilah yang merupakan biang dari semua kejahatan dan sifat buruk lain umat manusia di muka bumi. Saya merasa bahwa terlalu banyak sifat jelek dan dorongan nafsu yang selalu menyertai langkah kita dalam mengarungi bahtera kehidupan. Dalam kondisi ideal, tatkala kita sedang menundukkan kepala kita dan hanyut dalam aliran do’a dan konsentrasi tahajud, rasanya kita ingin buang semua kotoran busuk dalam diri dan bungkus diri kita dengan anggunnya jubah taqwa. Akan tetapi seringkali padatnya tekad tersebut lambat laun mencair seiring dengan terbitnya sinar mentari dan datangnya kesibukan di siang hari. Pada tengah hari, bukan tidak mungkin semuanya sudah menguap bersamaan dengan teriknya godaan duniawi yang secara indrawi lebih mudah dinikmati.

Idealnya, kita hapus saja semua sifat buruk dalam diri kita dan kita bisa jadi seorang suci. Tapi kita semua tahu bahwa jalan ke sana begitu terjal dan mendaki. Belajar dari teori manajemen pemasaran: Fokus ! Seandainya kita bisa menfokuskan effort kita pada tiga sifat jelek tersebut saya pribadi sangat yakin bahwa kita bisa menjadi orang yang baik.

De Vere Horsley London, 24 April 2008, menjelang tengah malam (pkl 05 WIB)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: