Posted by: Hernowo | May 12, 2008

Kebahagiaan di balik Kesulitan dan Tantangan

Bahagia. Itulah yang dicari hampir oleh semua manusia dalam hidupnya. Descripsi tentang kebahagiaan mungkin akan berbeda antara satu orang dengan lainnya. Tetapi tidak ada satu manusiapun yg tidak menginginkan bahagia dalam hidupnya. Begitu pentingnya arti sebuah kebahagiaan, sampai-sampai seringkali manusia bersedia mengorbankan apa saja untuk mendapatkannya.

Dalam perenungan dan pencarian saya sampai saat ini, saya menemukan beberapa indikasi peta jalan menuju kebahagiaan. Pertama, kebahagiaan adalah sesuatu yang non material – non indrawi. Kita tahu hal itu ada, kita bisa merasakannya, tapi secara indera sulit dibuktikan. Dalam kondisi seperti itu, peranan logika dan perangkat material lainnya yang dimiliki oleh manusia akan sulit untuk mendeteksinya. Sebagai contoh: dalam kaidah logika, kalau kita memberikan sesuatu yang kita miliki kepada orang lain, maka yang kita miliki akan berkurang. 5 ayam diberikan ke tetangga 2, sisanya tinggal 3. Tetapi kalau kita memberikan kebahagiaan yang kita miliki kepada orang lain, seringkali kita merasa lebih bahagia. Sebaliknya, ketika kita ingin mengambil kebahagiaan orang lain, seringkali justru kita merasa lebih menderita. Kita harus menggunakan perangkat lain yang berikan Allah seperti hati nurani, keimanan, dll.

Kedua, Paradox dalam ajaran Islam: Kalau dilihat dari luar serasa menakutkan, sulit, menyusahkan. Begitu dijalani, banyak sekali hikmah yg di dapat, kebahagiaan, dll. Ini adalah ajaran yg memerlukan pengalaman individu. Jadi dalam menjalankan ajaran Islam, terutama yang berkaitan dengan individu (bukan ajaran sosial kemasyarakatan), terlalu banyak melakukan pendekatan rasio sepertinya tidak akan banyak membantu.  Terlalu memaksakan rasio dalam menjalankan ajaran agama hanya akan menghalangi kita untuk masuk lebih jauh ke dalam inti dari agama itu sendiri. Rasio hanya mampu menjangkau kulit luar dari ajaran Islam. Untuk masuk lebih jauh mengenal inti ajaran Islam, kuncinya adalah Just Do It ! Jalankan saja yang sudah anda tahu dan pahami.

Ketiga, perlunya menyelaraskan sudut pandang kita dengan kaidah yang berlaku di alam semesta. Paling tidak ada 2 sudut pandang manusia dalam upaya meraih kebahagiaan. Saya namakan saja paradigma take and give. Dalam paradigma take, manusia mencari kebahagiaan dengan jalan mengambil sebanyak mungkin dari lingkungan sekitar. Manusia dengan sudut pandang seperti ini meyakini bahwa dia akan bisa meraih kebahagiaan apabila dia memiliki sebanyak dan selengkap mungkin segala sesuatu, yang kalau bisa orang lain tidak memilikinya. Sebaliknya, dalam paradigma give, manusia berusaha mendapatkan kebahagiaan dengan jalan memberikan apa yang dimilikinya kepada sekitar.

Manakah diantara keduanya yang selaras dengan alam semesta ? Sepertinya paradigma give lebih selaras dengan alam semesta. Manusia bisa bahagia dengan melalui kedua jalan tersebut. Tapi kebahagiaan yang diraih melalui jalan give secara umum akan lebih terasa manis dan abadi. Orang yang berusaha mencintai akan merasa lebih bahagia dari orang yang berusaha untuk dicintai atau menarik cinta dari orang lain. Dengan belajar kita bahagia karena mendapatkan tambahan ilmu. Tapi secara umum, orang yang mengajarkan ilmu akan memperoleh kebahagiaan yang lebih. Kita bahagia kalau menerima sumbangan ataupun pemberian dari orang lain. Tapi bagi yang sudah mengalami betapa bahagianya bisa berbagi dan memberikan yang kita miliki kepada sesama, kebahagiaan yg pertama tidak akan sebanding.

Keempat, Tidak usah berharap. Tanpa adanya harapan, kekecewaan tidak akan mendapatkan tempat. Tanpa kekecewaan, hidup akan lebih bahagia. Dalam konsep agama Islam, konsep ini disebut Ikhlas. Ikhlas berarti kita tidak mengharapkan imbalan apapun dari semua makhluk di alam semesta atas perbuatan baik yang kita lakukan. Imbalan yang diharapkan hanyalah Ridlo dari Allah.

Kelima, kebahagiaan akan terasa lebih manis kalau dicapai melalui jalan terjal dan berliku. Putih akan terlihat lebih jelas dan kontras karena digoreskan di atas kertas hitam. Orang yang sampai ke puncak Everest dengan berjalan kaki akan jauh merasa lebih bahagia dibandingkan mereka yang sampai ke sana dengan Helicopter. Air putih jauh terasa menyegarkan tatkala diminum ditengah padang pasir yang terik setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan.

 

 

Grand Hyatt Erawan, Bangkok- 12 May 2008 – menjelang tengah malah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: