Posted by: Hernowo | May 30, 2008

Sampaikanlah Walau Hanya Satu Ayat

Hadits Rasul ini sangat populer di kalangan kaum muslimin. Sebagian besar kaum muslimin menjadikan hadits ini sebagai landasan perintah untuk menyampaikan kebenaran. Atau dalam bahasa kerennya ber-dakwah. Saking populernya hadits ini, sampai-sampai implementasinya pun sangat bervariasi. Dari mulai para ulama yang dengan tulus menyampaikan pesan kebenaran Islam dengan tanpa pamrih dan hanya berharap ridhlo dari Allah swt. Sampai dengan plesetan kaum politikus yang mengkritik lawan politiknya dengan dalih ingin menyampaikan kebenaran walau cuma satu ayat. Milis internet di kalangan aktivis muda Islam pun seringkali diwarnai petikan hadits dan ayat suci dengan dalih ingin menyampaikan kebenaran walau satu ayat. Padahal dibalik tulisan halus dan sejuknya pesan suci ini, tersirat sebuah kritikan tajam kepada sesama rekan dalam milis.

Tanpa bermaksud menggurui, saya menangkap makna lain dari hadits ini. Perintah dari hadits ini adalah : Sampaikankanlah ! Bukan omongkanlah ! atau tuliskanlah ! Makna dari perintah ini sangatlah dalam. Inti dari hadits ini adalah perintah kepada kita umat Islam untuk membawa pesan dari ajaran Islam yang Agung kepada yang seharusnya menerima. Kalau bisa, yang banyak. Tapi kalau tidak sanggup ya satu pesan saja. Tapi penekanan utama pada hadits ini bukanlah banyak ayat atau satu ayat, tapi Sampai. Sekali lagi, Sampai kepada yang seharusnya menerima adalah inti dari hadits ini. Bukan masalah satu ayat atau banyak ayat.

Sebagai perbandingan paling sederhana dari perintah ini adalah pekerjaan sebagai tukang POS. Dengan mem-poskan surat, kita berarti memberi perintah kepada PT POS untuk menyampaikan surat kita kepada orang yang kita tuju. Kriteria sukses dari PT POS dalam hal ini adalah sampai tidaknya surat kita ke tujuan. Dengan mengacu pada ilustrasi sederhana ini, maka kriteria sukses tidaknya kita menjalankan perintah Rasul melalui hadits ini adalah sampai tidaknya pesan Islam yang ingin kita sampaikan kepada orang atau kelompok yang kita tuju.

Secara tersirat hadits ini ingin mengajarkan kepada kita bahwa kualitas harus diutamakan daripada kuantitas. Satu pesan yang sampai dan diikuti oleh si penerima pesan jauh lebih utama daripada pesan yang bersifat massal, tapi tidak ada pengaruhnya bagi sasaran yang kita bidik. Yang dateng ke pengajian sih banyak. Tapi gak ada satupun yang perilakunya berubah. Ini adalah kegagalan utama dalam berdakwah. Rasul suskses dalam berdakwah bukan karena dia merekrut banyak pengikut. Beliau sukses dalam dakwahnya karena berhasil merekrut kader yang berkualitas. Kader yang paham betul pesan yang dibawa oleh Rasulullah. Dia meyakini secara nalar maupun keyakinan, dan sadar betul akan konsekwensi yang harus dihadapi.

Mengingat tujuan utama dalam hadits ini adalah sampainya pesan kepada penerima, maka metode menyampaikan menjadi nomor ke sekian. Bisa melalui lisan, tulisan, tindakan, permainan, diskusi ilmiah, canda tawa, dan lain sebagainya, maupun gabungan dari berbagai metode komunikasi tersebut. Yang penting pesannya sampai, dan metoda yang digunakan tidak dilarang. Hasil tercapai dengan proses yang bisa diterima. Dalam bahasa bisnis sering disebut Achieveing the goal with compliance process.

Sangat jelas disini bahwa tidak gampang menjalankan hadits ini. Jadi, anda jangan merasa tenang sudah mengirimkan sebuah ayat atau hadits ke temen anda dalam milis. Atau sudah membacakan ayat atau hadits tertentu dihadapan temen anda. Kemudian anda merasa kewajiban sudah ditunaikan. Kewajiban utama kita adalah pesan itu sampai. Agar sebuah pesan bisa sampai, diperlukan sebuah integrated approach yang sebagian besar berupa integritas pribadi dan konsistensi dalam ucapan dan tindakan.

Ketika kita menyampaikan bahwa kejujuran adalah salah satu nilai utama dalam Islam, maka pastikan kita adalah orang pertama yang berbuat jujur. Sampaikanlah pesan jujur itu juga dengan kejujuran. Jangan punya niat lain selain menjalankan tugas menyampaikan pesan. Ketika kita ingin menyampaikan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kerja keras dan pantang menyerah, pastikan kita menjadi orang pertama yang menjalankan nilai-nilai tersebut. Kurangi tidur dan membuang waktu secara percuma. Kurangi mengeluh, tetaplah bersemangat dalam situasi sesulit apapun. Jangan terlalu sering terlihat capai dan loyo. Jangan suka menyalahkan orang lain. Carilah solusi dari setiap permasalahan yang muncul. Jangan pernah mengutuk kegelapan. Lebih baik menyalakan lilin. Begitu kata pepatah.

Ketika kita ingin menyampaikan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin, pastikan kita menjadi orang pertama yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitar kita. Jangan suka menjadi beban buat orang lain. Lebih banyak membantu daripada menasehati. Selalu sebarkan Virus positif kepada lingkungan sekitar. Biasakanlah menjadikan diri kita menjadi media komunikasi antara pesan yang ingin kita sampaikan dengan target yang kita bidik. Dengan demikian, target yang kita bidik akan merasakan langsung pesan yang kita sampaikan. Bukan hanya membayangkan dalam tataran konsep dan imaginasi.

Target yang kita bidik bukan hanya membaca atau mendengarkan pesan yang kita sampaikan, tetapi lebih jauh lagi, merasakan dan mempunyai pengalaman bahwa pesan tersebut memang layak diterima dan diikuti. Yang pada akhirnya akan membawa manfaat pada si penerima. Manfaat dalam arti yang sangat luas – bukan saja dalam artian sempit material. Dalam ilmu marketing, pendekatan semacam ini disebut Experiental Marketing. Bagaimana seorang target consumers diberi kesempatan untuk mengalami sendiri berinteraksi langsung dengan dunia product yang ditawarkan. Bukan hanya dengan melihat dan mendengarkan iklan yang biasanya hanya merupakan propaganda dan pencitraan alam mimpi.

Bagaimana agar kita bisa mempunyai peluang yang lebih tinggi untuk sukses dalam menjalankan kewajiban ini, Insya Allah akan di posting di bagian lain.

 

My home sweet home

B14 My Gia 1 Compound, Phu My Hung, District 7, Saigon – May 30, 2008 – 24.00


Responses

  1. Subhanallah, menginspirasi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: