Posted by: Hernowo | November 4, 2008

Mengapa orang tidak beriman bisa sukses?

Kenapa orang yang ibadahnya jarang justru terlihat lebih bahagia? Mengapa mereka banyak juga yang sukses dalam karier mereka? Apakah keimanan seseorang akan menjamin orang tersebut sukses di dunia? Kenapa kita banyak melihat “orang beragama Islam” yang hidupnya “sengsara”? Kenapa Allah tidak mau menolong mereka?

Dan masih banyak lagi pertanyaan yang terkadang membuat kita sulit memahami, mengapa orang yg kelihatannya lebih beriman malah terlihat “kurang sukses dan beruntung” bila dibandingkan dengan mereka yang terlihat kurang beriman.  Saya pribadi pernah dalam waktu yang cukup lama mencoba mencari jawaban atas pertanyaan ini. Ketika pada titik tertentu mentok karena semua logika dan penjelasan yang coba saya bangun malah semakin membingungkan, sandaran terakhir yang saya gunakan adalah satu kata sakti: TAQDIR. Tidak memuaskan memang, tetapi paling tidak bisa menjadi obat penenang untuk sementara.

Kegelisahan ini sedikit mendapat pencerahan ketika aku membaca terjemahan dan tafsir dari surat Huud – surat ke 11. Surat ini dibuka dengan sebuah pernyataan yang sangat tegas: “Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, agar kamu tidak menyembah selain Allah.” Pernyataan ini seolah-olah menjawab kebingungan saya ini, dan memberikan jaminan bahwa saya akan menemukan penjelasan dari semua permasalahan dan pertanyaan, karena semua pertanyaan yang ada di kepalaku pastilah tidak akan keluar dari design logika yang diciptakan oleh Allah dan ditanamkan pada memori di otak-ku. Begitulah keyakinan saya.

Begitu saya membaca ayat berikutnya dari surat Huud, titik terang tersebut membesar menjadi seberkas sinar yang lebih mencerahkan. Pada Ayat ke-5 Allah mengingatkan kembali salah satu sifat yang sangat berbahaya, yaitu munafik. Ayat ini seolah mengingatkan saya agar tidak menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan penampakan luar seseorang. Jadi, bisa jadi orang yang selama ini saya lihat dan saya anggap baik, tetapi tidak demikian di mata Allah. Demikian pula sebaliknya. Pengalaman hidup saya selama ini benar-benar memberikan pengalaman yang sangat berharga. Betapa orang yang terdekat sekalipun bisa berkhianat. Ingat selalu Al Baqarah 216: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” serta Al Hujuraat 11: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik

Buat saya sendiri, ayat ini seolah menjadi peringatan keras bagi saya dan kita semua yang masih sering memikirkan persepsi orang lain terhadap diri kita. Kita berbuat baik seringkali lebih karena orang ingin menganggap kita orang baik. Melakukan ibadah yang tidak seberapa, tetapi terselip keinginan agar orang mempersepsikan kita sebagai orang alim. Dan masih banyak lagi hal memalukan yang Alhamdulillah Allah masih berkenan menutupinya.

Ayat ke-6 lebih mempertegas lagi pernyataan bahwa Allah lah yang memberi rizki kepada semua makhluk tanpa terkecuali, sampai hal-hal yang paling kecil. Sampai Allah menyatakan bahwa Beliau tahu kediaman dan tempat penyimpanan-nya. Sebuah pernyataan yang sangat indah tentang kontrol dan pengawasan yang luar biasa.

Begitu saya sambungkan dengan ayat ke-15, maka kebingungan saya semakin banyak berkurang.”Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan“. Dan pertanyaan tentang keadilah Allah – yang seharusnya bukan merupakan hal yang pantas dipertanyakan – memperoleh jawaban yang sangat indah pada ayat ke -16: “Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan“. Allah sendiri sudah menegaskan bahwa untuk mereka itu, tidak tersisa lagi pahala di akherat. Semua kebaikan dia – yang secara logika pasti pernah dilakukan – sudah di balas Allah di dunia.

Satu kegelisahan sudah mendapat pencerahan. Tapi kegelisahan baru muncul dalam diri saya – dan mudah-mudahan juga anda. Jika selama ini kita sudah mendapatkan begitu banyak limpahan rahmat dari Allah, masih adakah yang tersisa yang bisa kita jadikan bekal di akherat nanti? Masih layakkan kita meminta “tambahan” ketika berdo’a? 

Membayangkan itu semua, rasanya memang hanya kasih sayang, kemurahan, dan ampunan Allah sajalah yang bisa menyelamatkan kita dari siksa api Neraka. Sepertinya kita harus mengubah narasi do’a  yang selama ini mungkin terlalu banyak meminta dan menuntut. Mudah-mudahan kita masih diberi kesempatan yang cukup

 

Renungan Kesendirian di Saigon, November 2008


Responses

  1. Sy izin copas boleh ya ,,, mngkn suatu saat kl dperlukn bs d share dg tman yg lain. Thanks

    • Silahkan saja. Dengan senang hati


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: