Posted by: Hernowo | December 7, 2008

The Basic Concept of Human Design-4

Komponen design mental yang ke tiga adalah akal. Akal merupakan karunia dari Allah yang Dia berikan kepada manusia untuk membantu melakukan penalaran. Penalaran merupakan proses merekam, mengolah, dan menghubungkan berbagai macam data dan fakta menuju sebuah kesimpulan. Data dan fakta ditangkap oleh manusia dengan menggunakan indera, kemudia diproses oleh akal untuk menghasilkan kesimpulan. Hasil penalaran ini kemudian disimpan dalam sebuah memory yang dikenal dengan nama pengetahuan atau pangalaman.

Dengan demikian, akal manusia akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu, disebabkan oleh semakin berkembangnya pengetahuan dan pengalaman. Ini menjelaskan mengapa orang yang punya banyak pengetahuan dan pengalaman biasanya lebih baik dalam menyelesaikan masalah. Jadi, akal tidak tergantung dari umur, melainkan pengalaman dan pengetahuan dalam mengolah fakta yang diperoleh dari lingkungannya.

Akal sangat juga tergantung pada fakta dan pengalaman. Begitu dua hal ini tidak terpenuhi, maka fungsi akal menjadi sangat terbatas. Akal tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kondisi ini sering dinamakan dengan fenomena “bingung”. Jadi, bingung nerupakan kondisi dimana akal tidak bisa berkerja karena tidak tersedianya data, pengetahuan/pengalaman, maupun gabungan dari keduanya.

Berbeda dengan dua komponen utama yang berfungsi “semi otomatis”, akal memerlukan usaha dari manusia agar berfungsi dengan baik. Perlu sebuah proses aktivasi yang membutuhkan effort dan energi. Meskipun sama-sama melihat berbagai fenomena alam, setiap orang bisa membuat kesimpulan yang berbeda. Ada yang menangkap cahaya rembulan dan gemerlap sinar bintang di angkasa sebagai sesuatu yang romantis, sehingga memanfaatkannya untuk berpacaran misalnya. Tetapi beberapa orang yang beruntung menangkap fenomena tersebut, memikirkannya, dan membuat dirinya dengan sang pencipta karena secara akal, tidak mungkin semua itu tercipta dengan sendirinya dan berjalan secara acak.

Ketika kita berjalan-jalan ke kebun binatang, sebagian besar dari kita mungkin hanya memahaminya sebagai sebuah kesenangan karena bisa melihat berbagai macam satwa yang aneh-aneh. Tapi sedikit orang yang beruntung dan mau berfikir akan mempunyai pandangan yang berbeda. Betapa Allah maha kasih kepada setiap hambanya, sehingga binatang yang tidak mempunyai akal dan dikurung dalam ruang yang sangat terbatas tanpa kebebasan, tetap bisa mendapatkan rizki dan makanan dengan baik. Betapa luar biasanya Dia sang pencipta yang mampu membuat berbagai macam bentuk binatang. Betapa sayangnya Dia kepada manusia karena Dia menciptakan semua itu hanya untuk manusia. Dan betapa kasihannya manusia yang tidak mampu bersyukur dengan melihat semua fenomena tersebut.

Namun demikian, meskipun akal manusia demikian hebatnya dan berkembang terus seiring dengan meningkatnya kompleksitas kehidupan, akal juga mempunyai keterbatasan. Ketika ditanyakan kepada kita, angka berapa yang merupakan bilangan terbesar/terkecil, maka kita tidak bida menyebutkannya. Para ahli matematikapun cuma menyebutnya dengan istilah “tidak terhingga”. Ketika kita memikirkan seperti apa gambaran alam dengan dimensi lebih dari 3, akal kita sudah tidak mampu menjawabnya.

Banyak fenomena di sekitar kita yang juga sulit dimengerti oleh akal. Bagaimana mungkin seorang yang sangat paham agama tetap menjalankan dosa besar ? Bagaimana mungkin seorang ayah tega memperkosa anak kandungnya sendiri. Tidak masuk akal seorang ibu membuang bayi yang baru dilahirkannya, hanya karena ayahnya tidak bertanggung jawab. Tidak masuk akal manusia lebih takut kepada sesama manusia dan tidak takut sama murka Allah.

Namun dengan berbagai keterbatasan itu, bekal akal ini juga merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada manusia, yang tidak diberikan kepada mahluk Dia yang lain. Semua kasih sayang tersebut, kalau kita lihat kembali tujuan awal dari diberikannya akal, mempunyai satu tujuan utama, yaitu agar manusia mampu menemukan jalan awal untuk mengenal dan melakukan perjalanan kembali menuju pencipta Nya. Dzat yang sangat agung yang sedang menunggu kita di ujung perjalanan yang sedang kita lalui. Apakah kita bisa sampai kepadanya, atau malah tersesat semakin jauh, sangat tergantung bagaimana kita mempergunakan komponen akal ini, serta komponen ke empat yang dinamakan Qolbu – hati nurani.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: