Posted by: Hernowo | December 25, 2008

Jerusalem di mata seorang atheist

Seorang penulis Vietnam berkunjung ke Jerusalem. Pengalaman, hasil bidikan foto, serta pergulatan batinnya selama berada di sana dia tuliskan dalam majalah Heritage – majalah terbitan Vietnam Airline edisi November-Desember 2008. Saya membacanya dalam penerbangan dari Haiphong ke Ho Chi Minh City. Di awal artikelnya, dia menuliskan kata-kata berikut

“Sebagai seorang atheist, perjalan saya ke Jerusalem tentunya bukan merupakan ziarah ke tanah suci. Meskipun saya mempelajari budaya dan sejarah wilayah Jerusalem, saya tidak yakin bisa memahami wilayah ini dengan benar. Saya tidak bisa merasakan emosi seperti yang dirasakan oleh pengikut agama Kristen yang datang untuk napak tilas di jejak langkah kaki Jesus Kristus. Saya juga tidak bisa memahami semangat dan kegairahan peziarah penganut agama Islam, yang bangun di pagi buta dan berdoa di mimbar dari benteng tua. Saya juga tidak bisa memahami kaum Yahudi, sebuah ras yang mempunyai sejarah penyiksaan dan pembuangan yang sangat panjang. Bagaimana saya bisa memahami ratapan dan gaung do’a diantara dinding ratapan?”

Kesan ini menurut saya mewakili sebagian besar kaum atheis di Vietnam. Setelah 10 bulan tinggal di negeri komunis, Vietnam, saya bisa memahami mengapa mereka tidak bisa memahami emosi beragama. Saya bisa merasakan bahwa secara kejiwaan, kebanyakan orang Vietnam memang hambar. Ibarat sayur yang kurang garam. Untuk memahami emosi keagamaan, memang tidak bisa di ajarkan dan diceritakan. Emosi beragama hanya bisa diperoleh dengan pengalaman. Kita harus menjalaninya, baru bisa merasakan.

Untuk bisa merasakan emosi dan nikmatnya sholat malam, kita harus menjalaninya secara routine dan sungguh-sungguh. Barulah kita akan merasakannya. Untuk merasakan emosi dan nikmatnya berpuasa, kita harus menjalaninya berbagai macam puasa, termasuk yang sunnah. Puncaknya adalah puasa Daud. Untuk bisa merasakan emosi dan nikmatnya bershodaqah seperti yang sering diungkapkan oleh ust Yusuf Mansyur, kita harus membiasakan shodaqah secara routine, meskipun jumlahnya tidak harus besar. Dalam ilmu pemasaran, konsep ini disebut Experiental Marketing.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: