Posted by: Hernowo | January 11, 2009

Merumuskan Tujuan Hidup

Dalam ilmu manajemen modern, ada satu kata yang sangat penting yang juga sangat sering disebut dan dibicarakan dalam setiap meeting maupun diskusi, meskipun tidak semua yang sering membicarakannya paham akan maknanya. Kata tersebut adalah STRATEGY. Saya yakin anda semua sangat familiar dengan kata ini.

Secara sederhana, esensi dari sebuah strategy bisa dituliskan dalam bentuk 3 buah pertanyaan: Where do we want to be?, Where are we now? dan How do we get there?. Jika anda diberi tanggung jawab oleh perusahaan maupun organisasi apapun untuk merumuskan sebuah strategy, gunakan formula tersebut. Anda akan menjadi bintang. Jika anda mengambil mata kuliah strategic Management di sekolah bisnis seperti Prasetya Mulya, LPPM, IPMI, MM UI, MBA ITB, dan sekolah bisnis yang lain, kemungkinan besar anda akan dibawa pada teory strategy yang mbulet dengan referensi buku yang tebal-tebal. Tetapi kalau anda mampu menyederhanakan semua yang anda pelajari, saya yakin anda akan sampai pada tiga pertanyaan ini. Strategy merupakan fungsi transformasi dari kondisi saat ini menjadi kondisi yang kita inginkan di masa depan.

Mari kita lupakan sejenak urusan pekerjaan dan “duniawi”. Marilah kita luangkan sedikit waktu untuk merenung dan lebih mengenal diri kita sebagai manusia. Dengan menggunakan penyederhanaan konsep strategy di atas, maka pertanyaan paling penting yang harus selalu kita ajukan kepada diri kita sendiri adalah: Mau ke mana saya langkahkan kaki? Sebenarnya, apa tujuan hidup saya? Apa yang saya cari dengan semua kesibukan, kelelahan, tetesan keringat, darah, dan air mata?

Saya pribadi selalu ajukan pertanyaan tersebut ke diri saya, terutama ketika pada titik-titik tertentu saya merasa kehilangan orientasi. Tanda-tanda kehilangan orientasi ternyata sangat sederhana. Ketika kita memperoleh ujian, kita cenderung sangat bersedih apalagi cenderung meratapi nasib. Ketika memperoleh keberuntungan, kita terlalu bergembira, sampai lupa untuk bersyukur. Ketika mendapat masalah dan sulit mencari jawaban, kita cenderung stress dan bingung. Ketika kita malu kalau perbuatan jelek kita diketahui orang lain, tetapi tidak malu sama Allah. Ketika kita merasa berat dengan pesona diri yang akan kita tampilkan, dan tidak mau tampil apa adanya sebagai diri kita sendiri.

Jika anda merasakan salah satu dari situasi ini, ataupun situasi sejenis, ada baiknya anda menanyakan pertanyaan “strategis” ini kepada diri anda sendiri. Berdasarkan pengalaman saya selama ini, pertanyaan ini akan membawa kita pada perenungan tentang hakekat hidup, dan membantu kita untuk lebih tenang. Pada akhirnya, kita lebih mudah mengatasi berbagai macam romantika dan tantangan kehidupan.

Ketika saya duduk di bangku SMP, saya merasa ingin sekali menjadi insinyur.  Sebenarnya saat itu saya tidak tahu persis insinyur itu seperti apa. Tapi kedengarannya sangat keren dan orang-orang di sekitar saya sangat kagum. Makanya ingin sekali kalau besar nanti saya jadi insinyur. Memasuki SMA, saya mulai paham apa itu insinyur. Saya mulai melihat lebih fokus agar bisa kuliah di jurusan yang bisa menghasilkan insinyur. Pengin sekali saat itu saya masuk ke Teknik elektro UGM. Dengan pengetahuan yg terbatas, teknik elektro UGM kedengarannya bergengsi. Singkat cerita, akhirnya saya justru masuk Teknik Informatika ITB, jurusan yang tadinya saya sama sekali tidak punya pengetahuan tentangnya.

Setelah masuk ke sekolah insinyur ini, ternyata saya merasa bukan ini tujuan akhir saya. Saya membayangkan setelah lulus jadi kuli, bergelut dengan mesin dan komputer, dan mengerjakan hal-hal yang sangat teknis. Di bayangkan saja sudah sangat membosankan. Apalagi dijalani. Begitu yang saya pikirkan saat itu. Akhirnya saya memilih untuk jadi aktifis, ikut berbagai macam kegiatan, dan berdiskusi ngalor ngidul. Pengalaman ini mengubah tujuan hidup saya. Saya ingin jadi manajer. Saya ingin jadi boss dan bukan kuli. Dorongan inilah yang akhirnya membawa saya masuk sekolah bisnis yang akhirnya membawa saya bekerja di bidang pemasaran. Sebuah bidang yang sangat berbeda dengan teknologi informasi yang saya peroleh di ITB.

Tapi setelah “lumayan sukses” berkarir di bidang marketing (sukses menurut definisi saya tentunya), saya tetap seringkali merasakan kehampaan. Pada waktu kuliah di ITB saya sempat ikut sedikit kegiatan keagamaan. Meskipun tidak terlalu intensif, tetapi pengalaman yang pendek itu seringkali muncul kembali dan menjadi kenangan yang cukup indah. Di sela-sela kesibukan bekerja, seringkali saya mencoba mendalami kembali pengetahuan keagamaan. Secara routine saya membeli buku-buku rohani. Setiap ke Bandung, paling tidak saya membeli 5 buah buku di palasari, yang sebagian besar buku agama. Semakin dalam saya mempelari agama, semakin sering pertanyaan tentang tujuan hidup muncul.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya menemukan informasi yang bagi saya sangat membantu untuk merumuskan tujuan hidup saya. Kalau kita mencoba belajar dari Al Qur’an, paling tidak kita bisa mengacu pada QS Ash Shaaffaat ayat 99.  Dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Jadi, tujuan akhir dari perjalanan kita adalah menghadap Allah swt, Tuhan pencipta alam semesta yang sudah menciptakan manusia sebagai mahluk yang demikian istimewanya, sampai sang Syetan pun merasa iri dengan berbagai keistimewaan yang allah berikan. Ini sebenarnya bukan hal yg asing karena sudah sering saya dengar di berbagai pengajuan. Proses perenungan dan pencarian lah (yg terlalu panjang kalau dutuliskan di sini) yg membuat kesimpulan ini menjadi lebih istimewa.

Mengingat Allah adalah dzat yang maha mulia, tentunya tidak sembarang dzat (termasuk manusia) bisa menghadap kepada Nya. Hanya dzat (manusia) yang benar-benar bersih sajalah yang bisa menghadap kepada dzat yang maha suci ini. Dan untuk melakukan pembersihan tersebut selama di dunia, maka diturunkan ajaran agama untuk diikuti, ujian hidup dan penderitaan untuk menghapus dosa, dan sebagainya. Jika ternyata di dunia masih belum bersih juga, disiapkan siksa kubur serta neraka di alam akherat. Benar-benar sebuah design yang luar biasa.

Dengan mengikuti pertanyaan strategis tahap kedua: seperti apa posisi saya saat ini?, seberapa jauh saya dari kondisi yang memungkinkan saya bisa menghadap kepada Nya?, saya seringkali merenung dan terkadang berujung pada ketakutan bahwa ternyata saya sangat tidak siap untuk menghadap kepada Nya. Semakin saya renungkan dan saya pikirkan, semakin terasa bahwa saya benar-benar tidak siap. Jarak tersebut ternyata masih sangat jauh. Akankah dalam sisa hidup saya saya bisa menghapuskan jarak ini? Atau paling tidak mendekati?

Saya sangat bersyukur karena dengan semua kerisauan, kekhawatiran dan pertanyaan tersebut paling tidak membuat saya gelisah dan berfikir apa yang bisa saya lakukan untuk memperpendek jarak saya saat ini dengan kondisi seorang yang siap menghadap Tuhannya. Terus terang saat ini masih terlalu sedikit yang saya lakukan. Sebenarnya banyak yang bisa saya lakukan, tetapi ternyata godaan syetan dan hawa nafsu memang sangat sulit untuk di lawan.

Saya benar-benar bisa memahami mengapa Rasullullah, setelah perang badar, bukannya berhura-hura dan membusungkan dada. Beliau malah berpesan bahwa kita baru saja memenangkan perang kecil. Perang yang lebih besar sedang menunggu, yaitu perang melawan hawa nafsu. Sebuah pesan yang benar-benar sangat relevan, paling tidak buat saya pribadi yang terkadang antara omongan dengan perbuatan tidak sinkron. Masih terlalu banyak kemunafikan. Masih terlalu banyak keinginan. Selalu tidak puas dengan apa yang sudah Allah berikan, padahal sudah sangat banyak luar biasa. Dan masih banyak lagi hal-hal yang memalukan, yang sekali lagi, harus saya syukuri karena sebagian besar masih ditutupi sama Allah.

Setelah melewati perenungan yang panjang, pada akhirnya saya hanya berharap dan berdo’a agar saya bisa meninggalkan dunia yang fana ini dalam keadaan khusnul khotimah. Inilah do’a yang saat ini saya anggap paling penting, paling tidak buat saya pribadi. Terus terang saya sangat takut melihat betapa orang yang terlihat sangat sholeh, ternyata bisa terjebak dalam dosa besar. Orang yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk berbuat kebaikan, ternyata di saat-saat terakhir hidupnya terjerumus dalam dosa.

Saya membuka hadit’s berikut dalam salah satu penerbangan.

Hadist riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga

Ya Allah, Ya Rahmaan, Ya Rahiim …Hamba tahu bahwa amal baik hamba sangatlah sedikit. Hanya kasih sayang Engkaulah yang mampu menjauhkan hamba dari panasnya api neraka. Jadikan akhir perjalan hamba khusnul khotimah. Jangan Engkau matikan aku ketika aku berada dalam kondisi yang hina.

Cantho – Vietnam Selatan, 11 January 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: