Posted by: Hernowo | March 7, 2009

Tatapan tulus para caleg

Setulus tatapannya

Setulus tatapannya

Selama 3 minggu kembali menelusuri jalan-jalan di beberapa kota di Jawa di akhir bulan February 2009, mengingatkan kembali pada kebiasaan lama memegang kemudi ketika mengunjungi team saya di lapangan. Salah satu kebiasaan yang sangat saya sukai ketika bekerja di sales dan trade marketing adalah mengunjungi rekan kerja di tempat mereka beraktifitas, ngobrol dengan mereka, dan mencari solusi atas berbagai persoalan sambil nongkrong di warung. Entah mengapa saya merasa menjadi begitu kreatif ketika bertemu para juragan saya di lapangan. Mungkin karena pikiran rileks tanpa adanya beban membalas e-mail. Mungkin juga karena perasaan terhibur bisa berbicara lepas tanpa beban di luar ruang meeting. Mungkin juga faktor yang lain.

Berbeda dengan perjalanan sebelumnya yang selalu diwarnai dengan pemandangan material promosi baik dari produk perusahaan saya maupun produk pesaing, perjalanan tempo hari lebih diwarnai dengan pemandangan dan foto para caleg yang sedang mencari keberuntungan menjadi wakil rahyat yang katanya terhormat. Foto-foto dengan penampilan terbaik saya lihat banyak sekali terpajang di setiap sudut jalan. Ada yang terkesan natural, karena tampangnya memang sesuai dengan gayanya. Tetapi banyak juga yang kelihatan dipaksakan supaya terlihat ganteng dan menarik. Saya sebut ganteng karena kebanyakan yang berpose wagu memang berjenis kelamin laki-laki.

Satu hal yang terlihat seragam berdasarkan impresi ang saya tangkap adalah kesan ketidak tulusan, yang merupakan gabungan antara tatapan mata sang caleg dengan untaian kata-kata yang menyertainya di papan reklame maupun berbagai poster. Entah dari bagian mana yang membuat saya berkesan seperti itu. Tapi alam bawah sadar saya mengatakan bahwa tidak usah terlalu percaya dan berharap bahwa ada diantara mereka yang mempunyai niat yang tulus untuk mensejahterakan rakyat. Kalau ada yang seperti itu berarti sebuah keberuntungan bagi rakyat.

Tentulah sebuah rahmat yang besar bagi negeri ini jika suatu saat nanti para foto calon wakil rakyat setulus tatapan seorang bayi seperti gambar ini. Sebuah tatapan yang menyejukkan hati. Sebuah tatapan yang begitu teduh tanpa arogansi. Sebuah tatapan tanpa ambisi dan cerminan haus akan kekuasaan. sebuah ketulusan yang akan menjadi semakin sempurna jika di belakang foto tersebut tertulis “Tolong jangan pilih saya, karena saya mungkin tidak sanggup memikul amanah anda. Pilih saja teman saya saja yang nomor xx. Dia Insya Allah lebih mampu dan lebih baik”.

Tapi tentu saja harapan seperti ini hanyalah sebuah mimpi. Bahkan para juru dakwah sekalipun lupa akan ajaran Rasul ketika harus berebut kursi yang katanya memang empuk. Ajaran Rasul yang melarang kita menawarkan diri untuk menjadi pemimpin dan mencari kedudukan ternyata kalah populer bila dibandingkan dengan theory pemasaran ajaran Philip Kotler.

Renungan sehabis mudik ke Tanah Air


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: